KEJADIAN 45
Pengakuan.
Ketika Yusuf memperhatikan perasaan saudara-saudaranya yang takut dan ketika dia mendengar mereka mengakui dosa mereka, dia tahu aman untuk mengungkapkan identitasnya kepada mereka. Seandainya dia melakukannya lebih awal, mereka tidak akan siap menerima berkat-berkat yang diberikan Yusuf bagi mereka; dan jika dia menunggu lebih lama, mereka mungkin telah putus asa total. Tuhan kita tahu bagaimana bekerja dalam hidup kita membawa kita kepada penyerahan diri. Yusuf bisa memberi makan mereka dan ayahnya tanpa melalui prosedur yang panjang, tetapi itu hanya akan semakin merusak karakter mereka.
Rekonsiliasi.
Yusuf berkata, “Marilah dekat-dekat” (ayat 4). Dia sudah memaafkan mereka, tetapi mereka masih takut. Bahkan, mereka masih tetap takut selama tujuh belas tahun kemudian (50:15–21). Di dalam Yesus Kristus, kita telah diperdamaikan kepada Allah, dan kita tidak perlu takut akan penghakiman (Rm. 8:1; 2 Kor. 5:18; Kol. 1:20). Allah ingin kita mendekat kepada-Nya (Ibr. 10:19–25; Yakobus 4:8).
Menentramkan hati.
Yusuf menjelaskan kepada mereka bahwa Allah telah mengutus dia sebelumnya mereka untuk memelihara mereka sehingga Israel bisa menjadi berkat bagi seluruh bumi(12:1–3). Tujuan pemeliharaan Allah tidak mengecilkan dosa mereka atau meniadakan tanggung jawab mereka (Kis. 2:23; 3:13–18), tetapi itu membantu meredakan ketakutan dan kesedihan mereka. Yusuf lebih lanjut meyakinkan mereka dengan memberi mereka banyak hadiah dan berjanji untuk melindungi seluruh keluarga. Hadiah yang dia kirim ke rumah turut memberi kepastian bagi Yakub bahwa Yusuf memang masih hidup.
Yusuf mengenal saudara-saudaranya, jadi dia menasihati mereka: “Jangan bersusah hati!” (ay.5), dan “Jangan bertengkar di perjalanan!” (ay.24). Kita segera kehilangan berkat ketika kita gagal menerima pengampunan Kristus dan kemudian mengasihi satu sama lain. (Lihat 1 Yohanes 4:7 dst.)
KEJADIAN 46-47
Tidak mudah bagi Yakub, yang kini berusia 130 tahun, untuk meninggalkan tanah yang sudah Tuhan beri dan pergi ke Mesir. Pindah ke lingkungan baru biasanya merupakan pengalaman yang sulit, dan semakin tua usia kita, semakin sulit. Lebih-lebih lagi, Abraham sendiri pernah mendapat masalah di Mesir (12:10 dst.), dan Tuhan telah menghentikan Ishak untuk pergi ke sana (26:2 dst.).
Tetapi Yakub dapat pergi ke Mesir dengan percaya diri dan damai karena dia yakin akan janji dan kehadiran Allah (46:1-4). Di saat-saat krisis kehidupan, Tuhan berbicara kepada kita dan meyakinkan kita ketika kita mengambil waktu untuk beribadah. Lebih-lebih lagi, Yakub tahu bahwa Tuhan telah mendahuluinya dan bahwa Yusuf ada di sana menyiapkan segala sesuatu baginya. Masa depan adalah sahabatmu ketika Yesus adalah Tuhanmu dan kamu mengikuti-Nya.
Yakub adalah berkat saat di Mesir. Dia memberkati Firaun (47:7, 10), Yusuf dan putra-putra Yusuf (48:15, 20), serta kedua belas putra Israel (49:1 dst.). Tuhan memberkati kita supaya kita menjadi berkat. Keadaan bisa berubah, tapi Tuhan tidak pernah berubah.
Mesir adalah tempat berlindung bagi Yakub dan keluarganya, dan di sana Allah melindungi mereka dan membangun mereka sebagai orang-orang hebat. Tetapi Yakub tahu bahwa Mesir bukan rumahnya, rumahnya adalah Kanaan; dan dia ingin dimakamkan di sana bersama yang lain yang telah melakukan ziarah iman yang sama. Yakub adalah sebuah kesaksian dalam kehidupan, dan dia ingin menjadi kesaksian dalam kematian. Terlepas dari kesalahan dan kegagalannya di hidup, Yakub mengakhiri hidupnya dengan baik.
No comments:
Post a Comment