BILANGAN 31
Pertempuran terakhir yang diarahkan oleh Musa adalah melawan orang Midian, yang dengan saran Bileam, telah menggoda Israel ke dalam penyembahan berhala dan imoralitas (pasal 25). Setiap suku mengirim seribu tentara, dan imam besar pergi di depan tentara dengan tabut perjanjian. Itu adalah pertempuran Tuhan, dan Dia akan memberikan kemenangan.
Bileam tidak lama menikmati imbalan apa pun yang diberikan Balak kepadanya karena dia terbunuh dalam pertempuran (ayat 8). Sayangnya, dia tidak “mati seperti matinya orang-orang jujur” (23:10)! Seperti yang ditulis Markus, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36).
Israel memenangkan perang tetapi hampir kehilangan kemenangan, karena para pemimpin membawa beberapa wanita Midian masuk ke perkemahan bersama dengan jarahan. Ketaatan yang tidak mutlak selalu mengarah pada pencobaan yang lebih jauh. (Lihat 1 Sam. 15.) Jika tidak dapat mengalahkan musuh, musuh akan mengalahkan kita.
Mereka berperang dalam "perang suci", tetapi para tentara dikotori oleh pembunuhan orang Midian. Mereka harus menyucikan diri dan harta rampasan dibersihkan di hadapan Tuhan (pasal 19). Beberapa rampasan dibersihkan dengan api. Tuhan menginginkan tentara yang bersih sama seperti tentara penakluk.
BILANGAN 32
Beberapa orang memilih untuk hidup di perbatasan berkat Tuhan. Mereka membuat keputusan mereka atas dasar keuntungan materi dan bukan berkat rohani. Dua setengah suku tidak mengklaim milik pusaka mereka di Kanaan, meskipun mereka sangat dekat dengan itu.
Mereka meyakinkan Musa bahwa mereka akan membantu menaklukkan negeri itu, tetapi suku-suku masih membawa perpecahan bagi Israel. Bahkan, saat tanah sudah penuh ditaklukkan, dua setengah suku mendirikan mezbah untuk membiarkan orang tahu, "Kami milik Israel!" (Lihat Yos. 22.) Seandainya mereka menyeberangi sungai Yordan dan mengklaim milik pusaka mereka, semua orang akan tahu kewarganegaraan mereka.
"Janganlah kami harus pindah ke seberang sungai Yordan!" (ay. 5) adalah ungkapan dari kegagalan seperti yang dikatakan "Bawa kami kembali ke tanah Mesir!" atau “Mari kita mati di padang gurun!" Ketika keuntungan materi dan bukan kemuliaan Tuhan, yang menguasai keputusan kita, kita akan membuat keputusan yang salah. (Lihat Mz. 47:4.)
BILANGAN 33
Meninjau masa lalu (1–49).
Dr. A. T. Pierson berkata, “Sejarah adalah cerita Tuhan." Adalah baik untuk meninjau masa lalu dan memahami tangan Tuhan yang berkarya. Tuhan membebaskan mereka dari Mesir dan membawa mereka ke Sinai, di mana mereka mengadakan perjanjian dengan-Nya (ay.1–15). Kemudian Dia membawa mereka ke perbatasan Tanah Perjanjian, tempat mereka menolak untuk memasukinya (ay.16–36). Mereka mengembara selama empat puluh tahun dan kemudian berakhir di dataran Moab (ay. 37–49). Ketidakpercayaan berarti menyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan hidup, dan menyia-nyiakan kesempatan, tetapi Tuhan itu murah hati dan panjang sabar dengan umat-Nya.
Mengantisipasi masa depan (50–56).
“Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan” adalah janji dan jaminan yang mendorong bangsa dalam usaha baru iman mereka. Apa hak istimewa untuk mengklaim milik pusaka yang diberikan Tuhan! Tapi Tuhan juga memberikan beberapa tanggung jawab: mengusir musuh, menghancurkan berhala-berhala mereka, merampas harta mereka, dan kemudian membagi Tanah itu. Pertama Anda menaklukkan, lalu Anda mengklaim. Pertama ketaatan, lalu berkat.
No comments:
Post a Comment