ULANGAN 13
Pada zaman Musa, seperti pada zaman kita, beberapa orang mengaku memiliki karunia ajaib, ternyata tidak setia kepada Tuhan. Ujian itu bukan kemampuan manusia untuk melakukan mukjizat, karena Setan pun dapat melakukannya (2 Kor. 11:13–15; 2 Tes. 2:9–12), tetapi kesetiaannya pada kebenaran Allah. Setiap pemimpin yang menggoda kita menjauh dari Tuhan dan Firman-Nya adalah musuh dan harus ditolak.
Kesuksesan tidak menentukan kebenaran, begitu pula kasih sayang pribadi (ay.6–11). Kita harus mengasihi kebenaran lebih dari kita mencintai manusia, tidak peduli betapa menyakitkan mungkin perbedaan kita (Amsal 1:10 dst.).
Jumlah tidak menentukan kebenaran (ay.12-18). Jika seluruh kota berbalik jauh dari Tuhan, itu bukan alasan bagi kita untuk melakukan yang sama. Tuhan akan berdiri bersama kita (Mat. 10:28–42). Kesetiaan kita harus “pada hukum dan kesaksian” (Yes. 8:20).
ULANGAN 14
Anak-anak Tuhan tidak boleh seperti orang-orang dunia. Itu arti dasar dari kata Ibrani yang diterjemahkan “kudus” adalah “menjadi berbeda.”
Umat Tuhan berbeda.
Meskipun aturan makanan orang Yahudi tidak berlaku untuk umat Tuhan saat ini (1 Tim. 4:1–5), prinsip rohani tetap ada: kita harus menjadi umat yang terpisah dan taat. Daftar makanan "halal" dan "haram" adalah pengingat bahwa umat harus belajar untuk membedakan antara apa yang Tuhan terima dan apa yang Dia tolak. Tinjaulah Imamat 11:41–47.
Kita harus memuliakan Allah dalam apa yang kita terima dan juga dalam apa yang kita berikan (ay. 22–29). Persepuluhan adalah 10 persen dari hasil bumi, yang dapat digunakan sebagai korban untuk berpesta gembira di hadapan Tuhan. Persepuluhan khusus setiap tahun ketiga mendukung kaum Lewi dan membantu orang-orang miskin.
Dalam menerima dan memberi, kita harus memuliakan Tuhan dan dengan penuh sukacita melayani Dia. (Lihat 1 Kor. 10:31.)
ULANGAN 15
Berkat Tuhan seharusnya memotivasi kita untuk menjadi berkat dan penolong bagi yang lain. Perhatikan seberapa sering Musa menyebutkan berkat Allah (ay.4, 6, 10, 14, 18). Tuhan telah membuka tangan-Nya dengan murah hati kepada kita, dan kita harus membuka tangan kita lebar-lebar kepada orang lain (ay. 8). Dia memberkati kita supaya kita menjadi berkat (Kej. 12:2).
Kita tidak hanya harus memiliki tangan yang murah hati, tetapi kita harus memupuk rasa senang hati saat kita berbagi (ayat 10). Memberi adalah kesempatan bukan untuk perhitungan yang cerdik (ay.9) tetapi untuk kegembiraan! Paulus mungkin memikirkan ayat ini ketika dia menulis “jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor. 9:7).
Pemberian terbesar dari semuanya adalah pemberian diri kita sendiri karena kita mengasinhi seseorang dengan yang lain (ay.16-17). Pertama kita memberikan diri kita kepada Tuhan (Roma 12:1-2) dan kemudian kepada yang lain dalam pelayanan kasih (2 Kor. 8:1–5).
No comments:
Post a Comment